Viral Lagi! Video Harrison Ford Sentil Zulhas, Warganet Ramai-Ramai Protes Pascabencana di Sumatera

Oleh Admin, 7 Des 2025
Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 memicu reaksi besar di ruang publik. Di tengah kesedihan warga yang kehilangan rumah dan anggota keluarga, perhatian warganet justru tertuju pada sosok Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas. Ribuan komentar menyerbu akun Instagram-nya, hingga akhirnya beberapa unggahan terpaksa membatasi kolom komentar. Fenomena ini terjadi setelah sebuah video lama yang menampilkan teguran aktor Hollywood Harrison Ford kepada Zulhas kembali viral di media sosial.

Video tersebut berasal dari dokumenter Years of Living Dangerously yang tayang pada 2013. Dalam cuplikan itu, Harrison Ford tampak menekan Zulhas—yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan untuk menjelaskan maraknya pembabatan hutan dan konflik pemanfaatan lahan. Publik yang menonton ulang video itu menghubungkannya dengan bencana banjir dan longsor yang terjadi belakangan ini. Di berbagai platform, mulai dari Instagram hingga TikTok, komentar bernada marah dan sindiran tajam bermunculan, menyoroti jejak kebijakan di sektor kehutanan.

Di tengah ramainya protes digital tersebut, banyak warganet yang kembali mencari tahu latar belakang Zulhas. Ia adalah politisi senior yang kini menjabat sebagai Menko Pangan di era pemerintahan Prabowo-Gibran. Selain itu ia juga merupakan Ketua Umum PAN sejak 2015. Riwayat jabatannya cukup panjang, mulai dari Ketua MPR RI, Wakil Ketua MPR, hingga Menteri Perdagangan. Namun masa tugasnya sebagai Menteri Kehutanan pada periode 2009–2014 kini kembali diangkat publik karena dianggap berkaitan dengan kondisi hutan di Sumatera.

Perbincangan publik makin ramai ketika muncul laporan terbaru LHKPN yang menunjukkan kenaikan harta kekayaan Zulhas lebih dari Rp17 miliar dalam setahun. Total kekayaannya kini tercatat mencapai sekitar Rp49,65 miliar. Informasi ini kemudian ditarik-tarik oleh netizen dalam diskusi yang lebih emosional setelah bencana terjadi. Walau tidak berkaitan langsung dengan banjir maupun longsor, isu ini menjadi pemicu tambahan yang membuat publik makin kritis terhadap para pejabat negara.

Gelombang kritik terhadap Zulhas tidak lepas dari kekhawatiran masyarakat tentang semakin berkurangnya tutupan hutan Sumatera. Banyak yang menilai bahwa perubahan fungsi lahan secara masif, kurangnya pengawasan pada praktik pembalakan liar, dan lemahnya regulasi di masa lalu menjadi faktor yang memperparah kerentanan kawasan tersebut terhadap bencana alam. Ketika video Harrison Ford kembali muncul, hal itu seperti memantik bara lama yang belum padam di benak publik.

Di saat situasi sedang memanas, unggahan Zulhas mengenai kampanye penggunaan tumbler justru menambah kemarahan sebagian warganet. Banyak yang menilai konten tersebut tidak tepat waktu dan terkesan tidak menunjukkan empati di tengah bencana besar yang menimpa ribuan warga. Komentar bernuansa sindiran dan kecaman langsung berdatangan, membuat suasana debat di linimasa semakin riuh.

Berbagai tuntutan mulai bermunculan dari publik, seperti desakan agar Zulhas memberikan klarifikasi lebih mendalam mengenai kebijakan kehutanan di masa lampau, hingga ada yang meminta dirinya mundur sebagai bentuk tanggung jawab moral. Tentu saja tidak semua kritik bersifat objektif, sebagian juga dipengaruhi oleh emosi dan trauma masyarakat terhadap bencana yang terjadi berulang kali.

Kisruh yang terjadi di media sosial ini menjadi cerminan bahwa isu lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut rasa keadilan publik. Kebijakan yang dibuat satu dekade lalu dapat kembali dipertanyakan ketika dampaknya terasa di masa kini. Ketika banjir dan longsor menelan korban, masyarakat mencari jawaban, dan mereka menoleh pada para pengambil kebijakan yang pernah memegang kendali atas hutan dan sumber daya alam Indonesia.

Peristiwa ini menyadarkan bahwa jejak masa lalu pejabat publik tidak pernah benar-benar hilang. Ketika bencana datang, ingatan kolektif masyarakat kembali terbuka. Publik menuntut transparansi, akuntabilitas, dan kepedulian yang nyata, bukan sekadar kampanye simbolis. Polemik yang menimpa Zulkifli Hasan adalah gambaran bagaimana kombinasi antara video lama, bencana alam, dan kekecewaan masyarakat dapat menciptakan gelombang kritik yang sulit dibendung.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © KangInformasi.com
All rights reserved